Nama : LisaFebrilia
Nim : 153080349
Kelas : G
Mata kuliah : Public Relations
MODEL-MODEL PUBLIC RELATIONS
inDalam menjalankan praktek public relations dalam organisasi, ada kecenderungan praktisi public relations untuk menjalankan fungsi-fungsi public relations tertentuyang mengarah pada terbentuknya model-model public relations. Dalam upaya mencermati model-model public relations, Gruning dan Hunt menggunakan pendekatan struktur horizontal dengan berdasarkan public, teknik Komunikasi, prose’s manajemen, wilayah geografis, system account executive, dan perkembangan praktek public relations di Amerika Serikat.
1. Press Agentry Model (Model Keagenan Pers)
Model ini menunjukan praktek public relations dimana program-program public relations yang dijalankan memiliki tujuan tunggal untuk mendapatkan publisitas melalui media massa yang menguntungkan organisasi. Eric Godlman (1948) menyebut era ini sebagai era dimana publik dibohongi (the public to be fooled)
2. Public Information Model (Model Informasi Publik)
Pada awal ke-20, model informasi publik mulai berkembang. Praktek public relations bertujuan untuk menyebarkan informasi kepada publik. Peran praktisi public relations lebih ditekankan pada hubungan media dengan mengeluarkan press releases yang menjelaskan tindakan dan kegiatan mereka sesering mungkin. Praktisi yang mempraktekkan model ini sering disebut journalist in residence.
3. Two-way Assymetrical Model (Model Asimetris Dua Arah)
Model ini juga disebut sebagai model persuasi ilmiah (scientific persuasion)yang menggunakan hasil-hasil penelitian tentang sikapmisalnya, untuk merancang pesan. Edward L. Bernays, seorang tokoh histories public relations, mempercayaibahwa manusia dapat dimanipulasi dengan menunjukkan bukti keberhasilan propaganda Hitler mengenai Nazi pada Perang Dunia II. Model ini lebih mementingkan pembelaan organisasi daripada mencari solusi yang terbaik bagi penyelesaian problem public relations yang muncul.
4. Two-way Symmetrical Model (Model Simetris Dua Arah)
Model ini menekankan pentingnya perubahan perilaku organisasi untuk merespon tuntutan publik. Praktisi public relations suatu organisasi selain berfungsi untuk membujuk publik, ia juga berusaha untuk mempersuasi pihak manajemen organisasi agar mau memperhatikan apa yang menjadi keinginan publik.
Adapun keempat model diatas mempunyai karakteristik, yaitu :
• Model Keagenan Pers
Tujuan : Propaganda
Sifat Komunikasi : Satu arah,kebenaran tidak esensial
Model Komunikasi : Source→ Rec
Sifat penelitian : sedikit; ‘counting house’
Tokoh utama : P. T. Barnum
Organisasi yang menggunakan : Sports, theatre, promosi produk
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
• Model Informasi Publik
Tujuan : Penyebaran informasi
Sifat Komunikasi : Satu arah, kebenaran penting
Model Komunikasi : Source→Rec
Sifat penelitian : Sedikit; readability, readership
Tokoh utama : Ivy Lee
Organisasi yang menggunakan : Pemerintah, yayasan, bisnis
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 50%
• Model Asimetris Dua Arah
Tujuan : Persuasi ilmiah
Sifat Komunikasi : Dua arah; pengaruh tidak berimbang
Model Komunikasi : Source →Rec←Feedback
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi sikap
Tokoh utama : Edward L. Bernays
Organisasi yang menggunakan : Bisnis, kompetitif, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 20%
• Model Simetris Dua Arah
Tujuan : Pengertian bersama
Sifat Komunikasi : Dua arah, pengaruh berimbang
Model Komunikasi : Group→Group
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi pengertian
Tokoh utama : Bernays, pendidik, pimpan professional
Organisasi yang menggunakan : Bisnis tertata, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
Praktisi public relations biasanya menjalankan peran berikut :
• Memberi advis pada pihak manajemen akan suatu kebijakan
• Berpartisipasi dalam keputusan kebijakan
• Merencanakan program public relations
• Menawarkan program pada pihak manajemen
• Mengajak kerja sama karyawan yang lain
• Mendengarkan pidato, berpidato, menulis pidato untuk orang lain
• Mencari pembicara untuk rapat-rapat organisasi
• Mengambil foto atau mengarahkan fotografer
• Memberi award
• Merencanakan dan melaksanakan rapat
• Mempersiapkan materi publisitas
• Berbicara dengan editor dan reporter
• Menyelenggarakan konfrensi pers
• Menulis artikel feature
• Meneliti opini publik
• Merencanakan dan mengelola event
• Mengadakan tur
• Menulis surat
• Merencanakan dan menulis booklet, leaflet, laporan dan bulletin
• Menempatkan pembicara untuk program radio dan televisi
• Mengevaluasi public relations, dll
Dari beragam aktivitas public relations yang dijabarkan oleh Wilcox dkk. Penglasifikasian peran praktisi public relations pertama kali dikonseptualisasikan oleh Glen M. Broom dan G. D. Smith pada tahun 1979, dan dikembangkan oleh para peneliti public relations dalam studi mereka yang berhubungan dengan peran public relations :
Public Relations Roles
1) Communication Technician Role (Peran Teknisi komunikasi)
Praktisi public relations memiliki keahlian dibidang Komunikasi dan jurnalistik – menulis, pengeditan, produksi audio visual, grafis dan produksi pesan – yang dibutuhkan untuk melaksanakan program public relations. Praktisi public relations yang menjalankan peran ini biasanya memegang peranan penting dalam organisasi yang mengutamakan informasi publik atau keagenan pers dimana pers membuat release kepada media mengenai organisasi
2) Communication Manager Role (Peran Manajer Komunikasi)
Praktisi public relations secara sistematis merencanakan dan mengatur program public relations sebuah organisasi, memberi masukan pada manajemen perusahaan, dan membuat kebijaksanaan komunikasi. Communication manager role terdiri atas tiga sub peran:
a) Expert prescriber. Manajer public relations kadangkala berfungsi sebagai ‘seorang ahli’ dan mendefinisikan masalah public relations, membuat program dan bertanggungjawab atas pelaksanaan program. Peran ini dalam literature praktisi public relations (Cutlip & Center 1971; Newsom & scott 1976) dikenal sebagai informed practioner.
b) Communication facilitator. Praktisi public relations berperan sebagai ‘perantara’ yang menjaga kualitas dan kuantitas alur Komunikasi dua arah antara organisasi dengan publiknya. Dia berfungsi sebagai liaison, interpreter, dan mediator yang berusaha menghilangkan hambatan komunikasi. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen dan publik untuk membuat keputusan yang saling menguntungkan. Praktisi yang menjalankan peran ini beraktivitas dengan asumsi bahwa komunikasi dua arah yang efektif akan meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh organisasi dengan publik yang berhubungan dengan kebijakan, prosedur, dan tindakan untuk kepentingan bersama.
c) Problem-solving process facilitator. Praktisi public relations membantu pihak manajemen organisasi untuk mencari solusi dari masalah komunikasi dan relasi organisasi. Peran problem-solving process fasilitator berbeda dengan peran expert prescriber. Pada peran expert prescriber, keterlibatan manajemen bersifat pasif, sedangkan peran problem-solving process facilitator bekerja sama dengan pihak manajemen secara hati-hati untuk menyelesaikan masalah secara bertahap.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar