A. PENDAHULUAN
A.1 Latar Belakang
Saya membuat makalah dengan mengangkat judul “Pengaruh Media Televisi Terhadap Masyarakat” karena pada dewasa ini teknologi sudah semakin maju. Dimana orang dalam memerlukan berita atau informasi sudah sangat mudah memperolehnya. Dari sekian banyak kemajuan teknologi salah satu diantaranya adalah pesawat televisi. Berbicara mengenai televisi, tentu ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya, yakni yang menyajikan, yang disajikan dan yang menikmati.
Televisi yang selama ini berperan sebagai media massa elektronik, walaupun dalam bentuk yang paling sederhana, ternyata mampu menggelitik, mempengaruhi dan menggiring seluruh umat manusia untuk membeli dan memilikinya di berbagai belahan bumi ini sehingga boleh jadi, sampai hari ini, sudah sekian milyar pesawat televisi diproduksi banyak pabrik di seluruh dunia. Televisi dengan berbagai program acara siarannya selama ini dengan berbagai jenis tayangan informasi dan hiburannya memang selalu menawarkan suatu kenikmatan tersendiri bagi para pemirsanya. Manfaat dan kegunaan pesawat televisi memang bukan tidak ada. Hanya, dibandingkan dengan kerugiannya, manfaat menonton acara televisi sampai saat ini, jauh lebih kecil ketimbang kerugian yang akan ditimbulkannya.
A.2 Ruang Lingkup
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengaruh media televisi terhadap perilaku masyarakat yang tanpa kita sadari kita telah terpengaruh oleh media televisi dan kita terapkan di dalam masyarakat seperti dalam cara berpakaian, berbicara dan lain-lainnya. Dan ada pun pengaruh negatif dan positif dari media televisi terhadap masyarakat. Agar tidak terlalu luas disini diskusi hanya dibatasi oleh beberapa situasi, kondisi, dan tempat tertentu.
B. PEMBAHASAN
B.1 Tujuan televisi dalam masyarakat
Dimana terdapat beberapa tujuan televisi untuk masyarakat. Pertama, menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Ketiga, mengembangkan masyarakat adil dan makmur.
B.2 Fungsi Televisi
Fungsi
Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi “Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.”
Banyak acara yang disajikan oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang perlu dilestarikan.
Dari uraian di atas mengenai fungsi televisi secara umum menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut: Pertama, media informasi dan penerangan. Kedua, media pendidikan dan hiburan. Ketiga, media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya. Keempat, media pertahanan dan keamanan.
B.3 Pengaruh Media Televisi terhadap perilaku Masyarakat
Betapa kuatnya pengaruh televisi (TV) terhadap perilaku masyarakat/pemirsa sehingga seorang pakar komunikasi dan TV, AS (George Gerbner), menyebut TV sebagai “Agama Masyarakat Industri”.
Kehadiran TV maupun pesan-pesan yang disampaikannya mempengaruhi. Pertama, pengetahuan (Kognisi) dimana masyarakat bisa dapat pengetahuan lebih dari televisi. Kedua, sikap (Afeksi) dan tingkah laku (Psikomotor) masyarakat. Dimana kebanyakan manusia yang bersifat imitasi yang selalu meniru, televisi sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat, karena televisi biasanya menampilkan hal-hal yang baru bagi masyarakat sehingga masyarakat terpengaruh dan meniru.
Pengaruh media televisi juga terdapat dampak positif dan negatif. Dampak positif dalam media televisi. Pertama, dimana media televisi memberikan informasi kepada seluruh masyarakat sehingga masyarakat dapat menyimak berbagai informasi yang ditampilkan oleh media televisi. Dengan mengetahui segala informasi yang ada akan dapat membantu seseorang dalam berbuat sesuatu, mengambil keputusan, dan memiliki kepercayaan dalam perilaku. Kedua, memberikan hiburan kepada masyarakat. Dimana fungsi hiburan menunjuk pada upaya-upaya komunikatif yang bertujuan memberikan hiburan pada khalayak luas. Dampak negatif dalam media televis. Pertama, dimana media televisi bisa menginspirasikan kejahatan. Erlangga (2008:15) mengatakan, “media massa yang memiliki efek paling kuat terhadap masyarakat dalam hal peniruan adalah televisi, karena tayangan rekonstruksi kriminalitas itu sebaiknya dihentikan karena sangat berbahaya. Televisi sebaiknya tidak mengangkat pemberitaan kriminalitas secara detail.” Menurut Nugroho (2008:15), hubungan erat kekerasan di tayangan televisi dengan yang terjadi di kehidupan nyata. Ia menegaskan hal itu berdasarkan hasil penelitian Leonard Eron dan Rowell Huesman terhadap berbagai program tayangan kekerasan di televisi Amerika Serikat pada akhir tahun 1990-an”.
Kedua, Salah satu dampak negatif televisi adalah perubahan perilaku, karakter, dan mental penontonnya. Hal ini dikarenakan acara televisi yang disajikan semuanya hampir sama. Salah satunya sinetron yang banyak menampilkan adegan kekerasan, gaya hidup hedonis, seks, ataupun mistik. Jika masyarakat banyak yang kurang setuju dengan pendapat ini, para owner atau pemilik media akan beralasan jika penayangan acara tersebut merupakan permintaan pasar yang dibuktikan dengan tingginya rating. Dengan sistem rating, program-program unggulan (ini juga tak berkait dengan kualitas, melainkan kuantitas nilai jumlah pemirsa) akan menjadi rebutan para pemasang iklan. Dengan begitu industri kapitalis hanya akan berfikir bagaimana memperoleh keuntungan tanpa memperdulikan dampak yang terjadi pada masyarakat. Ketiga, membuat masyarakat menonton TV hingga larut malam, membuat jam tidur malam berkurang, sehingga aktivitas diluar rumah semakin berkurang, juga mengakibatkan anak-anak cenderung malas mengikuti kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih mendidik.
Di manapun, program televisi yang dikelola oleh industri berwatak kapitalis yang hanya berpikir bagaimana mencari keuntungan semata, senantiasa menimbulkan persoalan. Maka, pada awal dekade 1990-an, para pengamat media kemudian melontarkan gagasan untuk melakukan sejenis aktivisme yang bergerak di tataran publik. Lahirlah gerakan media literacy, yaitu sebuah gerakan mendidik publik agar mampu menghadapi media massa secara bijak dan cerdas. Bijak, artinya mampu memanfaatkan media massa sesuai dengan keperluannya. Cerdas, artinya mampu memilih dan memilah ragam informasi yang memang diperlukan. Tahu mana yang penting, dan mana yang tidak penting atau bahkan berbahaya bagi dirinya maupun lingkungannya. Media literacy dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai keberaksaraan media atau melek media. Konsep ini merujuk pada kemampuan khalayak untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi pesan-pesan melalui media dalam berbagai konteks (Livingstone, 2003). Dalam suatu masyarakat media seperti kita sekarang ini, di mana kontak dengan media menjadi sesuatu yang esensial dan tak terhindarkan, media literacy merupakan sejenis ketrampilan yang diperlukan oleh khalayak guna berinteraksi selayaknya dengan media, dan menggunakan media dengan rasa percaya diri. Ketrampilan-ketrampilan ini sesungguhnya dianggap penting bagi siapa saja. Namun target utama media literacy adalah kaum muda dan anak-anak. Maklum, mereka tengah berada dalam proses peneguhan mental dan fisik.
C. KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan kajian sebagaimana di uraikan di atas penulisan menyimpulkan hal–hal yang berkaitan dengan penyelesaian permasalahan sebagai berikut
1. Dari sekian banyak tayangan yang disajikan televisi, kebanyakan dapat mempengaruhi sikap penontonnya setelah atau pada saat melihat tayangan televisi. Sehingga hal ini baik secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku penontonnya baik pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif.
2. Tayangan televisi yang menyajikan acara hiburan atau acara bernuansa kekerasan maka biasanya masyarakat, terutama pada anak-anak cenderung menyukai tayangan tersebut karena apa yang ditonton di tayangan televisi biasanya anak cenderung akan menirunya sehingga takut akan merusak akhlak masyarakat.
D. DAFTAR PUSTAKA
Mansur, awadl, Dr. (1993). Manfaat Dan Mudarat Televisi, Fikahati Anska, Jakarta.
Chen, Milton. (2005). Mendampingi Anak Menonton Telivisi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumargo, Faisal. 2008. “Pengaruh Media Massa (Televisi) Terhadap Masyarakat Kota Magelang Dalam Pilkada Jateng”. Dalam http://faisalsumargo.blogspot.com/2008/06/pengaruh-media-terhadap-masyarakat-kota.html. Diakses Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.30.
Elenyasak. 2008. “Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Anak”. Dalam http://ellenyasak.multiply.com/journal/item/2. Diakses Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.45.
Redaksi. 2008. “Media Bisa Menginspirasi Kejahatan”. Dalam Kompas, 10 November 2008. Jakarta.
Senin, 20 April 2009
Peran-Peran Public Relations
Nama : LisaFebrilia
Nim : 153080349
Kelas : G
Mata kuliah : Public Relations
MODEL-MODEL PUBLIC RELATIONS
inDalam menjalankan praktek public relations dalam organisasi, ada kecenderungan praktisi public relations untuk menjalankan fungsi-fungsi public relations tertentuyang mengarah pada terbentuknya model-model public relations. Dalam upaya mencermati model-model public relations, Gruning dan Hunt menggunakan pendekatan struktur horizontal dengan berdasarkan public, teknik Komunikasi, prose’s manajemen, wilayah geografis, system account executive, dan perkembangan praktek public relations di Amerika Serikat.
1. Press Agentry Model (Model Keagenan Pers)
Model ini menunjukan praktek public relations dimana program-program public relations yang dijalankan memiliki tujuan tunggal untuk mendapatkan publisitas melalui media massa yang menguntungkan organisasi. Eric Godlman (1948) menyebut era ini sebagai era dimana publik dibohongi (the public to be fooled)
2. Public Information Model (Model Informasi Publik)
Pada awal ke-20, model informasi publik mulai berkembang. Praktek public relations bertujuan untuk menyebarkan informasi kepada publik. Peran praktisi public relations lebih ditekankan pada hubungan media dengan mengeluarkan press releases yang menjelaskan tindakan dan kegiatan mereka sesering mungkin. Praktisi yang mempraktekkan model ini sering disebut journalist in residence.
3. Two-way Assymetrical Model (Model Asimetris Dua Arah)
Model ini juga disebut sebagai model persuasi ilmiah (scientific persuasion)yang menggunakan hasil-hasil penelitian tentang sikapmisalnya, untuk merancang pesan. Edward L. Bernays, seorang tokoh histories public relations, mempercayaibahwa manusia dapat dimanipulasi dengan menunjukkan bukti keberhasilan propaganda Hitler mengenai Nazi pada Perang Dunia II. Model ini lebih mementingkan pembelaan organisasi daripada mencari solusi yang terbaik bagi penyelesaian problem public relations yang muncul.
4. Two-way Symmetrical Model (Model Simetris Dua Arah)
Model ini menekankan pentingnya perubahan perilaku organisasi untuk merespon tuntutan publik. Praktisi public relations suatu organisasi selain berfungsi untuk membujuk publik, ia juga berusaha untuk mempersuasi pihak manajemen organisasi agar mau memperhatikan apa yang menjadi keinginan publik.
Adapun keempat model diatas mempunyai karakteristik, yaitu :
• Model Keagenan Pers
Tujuan : Propaganda
Sifat Komunikasi : Satu arah,kebenaran tidak esensial
Model Komunikasi : Source→ Rec
Sifat penelitian : sedikit; ‘counting house’
Tokoh utama : P. T. Barnum
Organisasi yang menggunakan : Sports, theatre, promosi produk
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
• Model Informasi Publik
Tujuan : Penyebaran informasi
Sifat Komunikasi : Satu arah, kebenaran penting
Model Komunikasi : Source→Rec
Sifat penelitian : Sedikit; readability, readership
Tokoh utama : Ivy Lee
Organisasi yang menggunakan : Pemerintah, yayasan, bisnis
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 50%
• Model Asimetris Dua Arah
Tujuan : Persuasi ilmiah
Sifat Komunikasi : Dua arah; pengaruh tidak berimbang
Model Komunikasi : Source →Rec←Feedback
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi sikap
Tokoh utama : Edward L. Bernays
Organisasi yang menggunakan : Bisnis, kompetitif, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 20%
• Model Simetris Dua Arah
Tujuan : Pengertian bersama
Sifat Komunikasi : Dua arah, pengaruh berimbang
Model Komunikasi : Group→Group
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi pengertian
Tokoh utama : Bernays, pendidik, pimpan professional
Organisasi yang menggunakan : Bisnis tertata, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
Praktisi public relations biasanya menjalankan peran berikut :
• Memberi advis pada pihak manajemen akan suatu kebijakan
• Berpartisipasi dalam keputusan kebijakan
• Merencanakan program public relations
• Menawarkan program pada pihak manajemen
• Mengajak kerja sama karyawan yang lain
• Mendengarkan pidato, berpidato, menulis pidato untuk orang lain
• Mencari pembicara untuk rapat-rapat organisasi
• Mengambil foto atau mengarahkan fotografer
• Memberi award
• Merencanakan dan melaksanakan rapat
• Mempersiapkan materi publisitas
• Berbicara dengan editor dan reporter
• Menyelenggarakan konfrensi pers
• Menulis artikel feature
• Meneliti opini publik
• Merencanakan dan mengelola event
• Mengadakan tur
• Menulis surat
• Merencanakan dan menulis booklet, leaflet, laporan dan bulletin
• Menempatkan pembicara untuk program radio dan televisi
• Mengevaluasi public relations, dll
Dari beragam aktivitas public relations yang dijabarkan oleh Wilcox dkk. Penglasifikasian peran praktisi public relations pertama kali dikonseptualisasikan oleh Glen M. Broom dan G. D. Smith pada tahun 1979, dan dikembangkan oleh para peneliti public relations dalam studi mereka yang berhubungan dengan peran public relations :
Public Relations Roles
1) Communication Technician Role (Peran Teknisi komunikasi)
Praktisi public relations memiliki keahlian dibidang Komunikasi dan jurnalistik – menulis, pengeditan, produksi audio visual, grafis dan produksi pesan – yang dibutuhkan untuk melaksanakan program public relations. Praktisi public relations yang menjalankan peran ini biasanya memegang peranan penting dalam organisasi yang mengutamakan informasi publik atau keagenan pers dimana pers membuat release kepada media mengenai organisasi
2) Communication Manager Role (Peran Manajer Komunikasi)
Praktisi public relations secara sistematis merencanakan dan mengatur program public relations sebuah organisasi, memberi masukan pada manajemen perusahaan, dan membuat kebijaksanaan komunikasi. Communication manager role terdiri atas tiga sub peran:
a) Expert prescriber. Manajer public relations kadangkala berfungsi sebagai ‘seorang ahli’ dan mendefinisikan masalah public relations, membuat program dan bertanggungjawab atas pelaksanaan program. Peran ini dalam literature praktisi public relations (Cutlip & Center 1971; Newsom & scott 1976) dikenal sebagai informed practioner.
b) Communication facilitator. Praktisi public relations berperan sebagai ‘perantara’ yang menjaga kualitas dan kuantitas alur Komunikasi dua arah antara organisasi dengan publiknya. Dia berfungsi sebagai liaison, interpreter, dan mediator yang berusaha menghilangkan hambatan komunikasi. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen dan publik untuk membuat keputusan yang saling menguntungkan. Praktisi yang menjalankan peran ini beraktivitas dengan asumsi bahwa komunikasi dua arah yang efektif akan meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh organisasi dengan publik yang berhubungan dengan kebijakan, prosedur, dan tindakan untuk kepentingan bersama.
c) Problem-solving process facilitator. Praktisi public relations membantu pihak manajemen organisasi untuk mencari solusi dari masalah komunikasi dan relasi organisasi. Peran problem-solving process fasilitator berbeda dengan peran expert prescriber. Pada peran expert prescriber, keterlibatan manajemen bersifat pasif, sedangkan peran problem-solving process facilitator bekerja sama dengan pihak manajemen secara hati-hati untuk menyelesaikan masalah secara bertahap.
Nim : 153080349
Kelas : G
Mata kuliah : Public Relations
MODEL-MODEL PUBLIC RELATIONS
inDalam menjalankan praktek public relations dalam organisasi, ada kecenderungan praktisi public relations untuk menjalankan fungsi-fungsi public relations tertentuyang mengarah pada terbentuknya model-model public relations. Dalam upaya mencermati model-model public relations, Gruning dan Hunt menggunakan pendekatan struktur horizontal dengan berdasarkan public, teknik Komunikasi, prose’s manajemen, wilayah geografis, system account executive, dan perkembangan praktek public relations di Amerika Serikat.
1. Press Agentry Model (Model Keagenan Pers)
Model ini menunjukan praktek public relations dimana program-program public relations yang dijalankan memiliki tujuan tunggal untuk mendapatkan publisitas melalui media massa yang menguntungkan organisasi. Eric Godlman (1948) menyebut era ini sebagai era dimana publik dibohongi (the public to be fooled)
2. Public Information Model (Model Informasi Publik)
Pada awal ke-20, model informasi publik mulai berkembang. Praktek public relations bertujuan untuk menyebarkan informasi kepada publik. Peran praktisi public relations lebih ditekankan pada hubungan media dengan mengeluarkan press releases yang menjelaskan tindakan dan kegiatan mereka sesering mungkin. Praktisi yang mempraktekkan model ini sering disebut journalist in residence.
3. Two-way Assymetrical Model (Model Asimetris Dua Arah)
Model ini juga disebut sebagai model persuasi ilmiah (scientific persuasion)yang menggunakan hasil-hasil penelitian tentang sikapmisalnya, untuk merancang pesan. Edward L. Bernays, seorang tokoh histories public relations, mempercayaibahwa manusia dapat dimanipulasi dengan menunjukkan bukti keberhasilan propaganda Hitler mengenai Nazi pada Perang Dunia II. Model ini lebih mementingkan pembelaan organisasi daripada mencari solusi yang terbaik bagi penyelesaian problem public relations yang muncul.
4. Two-way Symmetrical Model (Model Simetris Dua Arah)
Model ini menekankan pentingnya perubahan perilaku organisasi untuk merespon tuntutan publik. Praktisi public relations suatu organisasi selain berfungsi untuk membujuk publik, ia juga berusaha untuk mempersuasi pihak manajemen organisasi agar mau memperhatikan apa yang menjadi keinginan publik.
Adapun keempat model diatas mempunyai karakteristik, yaitu :
• Model Keagenan Pers
Tujuan : Propaganda
Sifat Komunikasi : Satu arah,kebenaran tidak esensial
Model Komunikasi : Source→ Rec
Sifat penelitian : sedikit; ‘counting house’
Tokoh utama : P. T. Barnum
Organisasi yang menggunakan : Sports, theatre, promosi produk
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
• Model Informasi Publik
Tujuan : Penyebaran informasi
Sifat Komunikasi : Satu arah, kebenaran penting
Model Komunikasi : Source→Rec
Sifat penelitian : Sedikit; readability, readership
Tokoh utama : Ivy Lee
Organisasi yang menggunakan : Pemerintah, yayasan, bisnis
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 50%
• Model Asimetris Dua Arah
Tujuan : Persuasi ilmiah
Sifat Komunikasi : Dua arah; pengaruh tidak berimbang
Model Komunikasi : Source →Rec←Feedback
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi sikap
Tokoh utama : Edward L. Bernays
Organisasi yang menggunakan : Bisnis, kompetitif, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 20%
• Model Simetris Dua Arah
Tujuan : Pengertian bersama
Sifat Komunikasi : Dua arah, pengaruh berimbang
Model Komunikasi : Group→Group
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi pengertian
Tokoh utama : Bernays, pendidik, pimpan professional
Organisasi yang menggunakan : Bisnis tertata, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
Praktisi public relations biasanya menjalankan peran berikut :
• Memberi advis pada pihak manajemen akan suatu kebijakan
• Berpartisipasi dalam keputusan kebijakan
• Merencanakan program public relations
• Menawarkan program pada pihak manajemen
• Mengajak kerja sama karyawan yang lain
• Mendengarkan pidato, berpidato, menulis pidato untuk orang lain
• Mencari pembicara untuk rapat-rapat organisasi
• Mengambil foto atau mengarahkan fotografer
• Memberi award
• Merencanakan dan melaksanakan rapat
• Mempersiapkan materi publisitas
• Berbicara dengan editor dan reporter
• Menyelenggarakan konfrensi pers
• Menulis artikel feature
• Meneliti opini publik
• Merencanakan dan mengelola event
• Mengadakan tur
• Menulis surat
• Merencanakan dan menulis booklet, leaflet, laporan dan bulletin
• Menempatkan pembicara untuk program radio dan televisi
• Mengevaluasi public relations, dll
Dari beragam aktivitas public relations yang dijabarkan oleh Wilcox dkk. Penglasifikasian peran praktisi public relations pertama kali dikonseptualisasikan oleh Glen M. Broom dan G. D. Smith pada tahun 1979, dan dikembangkan oleh para peneliti public relations dalam studi mereka yang berhubungan dengan peran public relations :
Public Relations Roles
1) Communication Technician Role (Peran Teknisi komunikasi)
Praktisi public relations memiliki keahlian dibidang Komunikasi dan jurnalistik – menulis, pengeditan, produksi audio visual, grafis dan produksi pesan – yang dibutuhkan untuk melaksanakan program public relations. Praktisi public relations yang menjalankan peran ini biasanya memegang peranan penting dalam organisasi yang mengutamakan informasi publik atau keagenan pers dimana pers membuat release kepada media mengenai organisasi
2) Communication Manager Role (Peran Manajer Komunikasi)
Praktisi public relations secara sistematis merencanakan dan mengatur program public relations sebuah organisasi, memberi masukan pada manajemen perusahaan, dan membuat kebijaksanaan komunikasi. Communication manager role terdiri atas tiga sub peran:
a) Expert prescriber. Manajer public relations kadangkala berfungsi sebagai ‘seorang ahli’ dan mendefinisikan masalah public relations, membuat program dan bertanggungjawab atas pelaksanaan program. Peran ini dalam literature praktisi public relations (Cutlip & Center 1971; Newsom & scott 1976) dikenal sebagai informed practioner.
b) Communication facilitator. Praktisi public relations berperan sebagai ‘perantara’ yang menjaga kualitas dan kuantitas alur Komunikasi dua arah antara organisasi dengan publiknya. Dia berfungsi sebagai liaison, interpreter, dan mediator yang berusaha menghilangkan hambatan komunikasi. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen dan publik untuk membuat keputusan yang saling menguntungkan. Praktisi yang menjalankan peran ini beraktivitas dengan asumsi bahwa komunikasi dua arah yang efektif akan meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh organisasi dengan publik yang berhubungan dengan kebijakan, prosedur, dan tindakan untuk kepentingan bersama.
c) Problem-solving process facilitator. Praktisi public relations membantu pihak manajemen organisasi untuk mencari solusi dari masalah komunikasi dan relasi organisasi. Peran problem-solving process fasilitator berbeda dengan peran expert prescriber. Pada peran expert prescriber, keterlibatan manajemen bersifat pasif, sedangkan peran problem-solving process facilitator bekerja sama dengan pihak manajemen secara hati-hati untuk menyelesaikan masalah secara bertahap.
Pengertian Komunikasi Massa
Pengertian Komunikasi massa tidak dapat didefinisikan dengan singkat dan sederhana, sebab di dalam pengertian Komunikasi massa tercakup hal-hal seperti pesan, teknologi, kelompok- kelompok, macam-macam konteks, bentuk-bentuk “audience” (khalayak), dan effect (pengaruh). Definisi yang diajukan oleh Bittner. Dia mengatakan bahwa “Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang”. Dan menurut Defleur dan Dennis, bahwa “ Komunikasi massa adalah suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan medeia untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda melalui berbegai cara.
Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
Langganan:
Komentar (Atom)