Senin, 20 April 2009

Makalah "Pengaruh Media Televisi Tehadap Masyarakat"

A. PENDAHULUAN

A.1 Latar Belakang
Saya membuat makalah dengan mengangkat judul “Pengaruh Media Televisi Terhadap Masyarakat” karena pada dewasa ini teknologi sudah semakin maju. Dimana orang dalam memerlukan berita atau informasi sudah sangat mudah memperolehnya. Dari sekian banyak kemajuan teknologi salah satu diantaranya adalah pesawat televisi. Berbicara mengenai televisi, tentu ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya, yakni yang menyajikan, yang disajikan dan yang menikmati.
Televisi yang selama ini berperan sebagai media massa elektronik, walaupun dalam bentuk yang paling sederhana, ternyata mampu menggelitik, mempengaruhi dan menggiring seluruh umat manusia untuk membeli dan memilikinya di berbagai belahan bumi ini sehingga boleh jadi, sampai hari ini, sudah sekian milyar pesawat televisi diproduksi banyak pabrik di seluruh dunia. Televisi dengan berbagai program acara siarannya selama ini dengan berbagai jenis tayangan informasi dan hiburannya memang selalu menawarkan suatu kenikmatan tersendiri bagi para pemirsanya. Manfaat dan kegunaan pesawat televisi memang bukan tidak ada. Hanya, dibandingkan dengan kerugiannya, manfaat menonton acara televisi sampai saat ini, jauh lebih kecil ketimbang kerugian yang akan ditimbulkannya.

A.2 Ruang Lingkup
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengaruh media televisi terhadap perilaku masyarakat yang tanpa kita sadari kita telah terpengaruh oleh media televisi dan kita terapkan di dalam masyarakat seperti dalam cara berpakaian, berbicara dan lain-lainnya. Dan ada pun pengaruh negatif dan positif dari media televisi terhadap masyarakat. Agar tidak terlalu luas disini diskusi hanya dibatasi oleh beberapa situasi, kondisi, dan tempat tertentu.
















B. PEMBAHASAN
B.1 Tujuan televisi dalam masyarakat
Dimana terdapat beberapa tujuan televisi untuk masyarakat. Pertama, menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Ketiga, mengembangkan masyarakat adil dan makmur.
B.2 Fungsi Televisi
Fungsi
Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi “Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.”
Banyak acara yang disajikan oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang perlu dilestarikan.
Dari uraian di atas mengenai fungsi televisi secara umum menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut: Pertama, media informasi dan penerangan. Kedua, media pendidikan dan hiburan. Ketiga, media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya. Keempat, media pertahanan dan keamanan.
B.3 Pengaruh Media Televisi terhadap perilaku Masyarakat
Betapa kuatnya pengaruh televisi (TV) terhadap perilaku masyarakat/pemirsa sehingga seorang pakar komunikasi dan TV, AS (George Gerbner), menyebut TV sebagai “Agama Masyarakat Industri”.
Kehadiran TV maupun pesan-pesan yang disampaikannya mempengaruhi. Pertama, pengetahuan (Kognisi) dimana masyarakat bisa dapat pengetahuan lebih dari televisi. Kedua, sikap (Afeksi) dan tingkah laku (Psikomotor) masyarakat. Dimana kebanyakan manusia yang bersifat imitasi yang selalu meniru, televisi sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat, karena televisi biasanya menampilkan hal-hal yang baru bagi masyarakat sehingga masyarakat terpengaruh dan meniru.
Pengaruh media televisi juga terdapat dampak positif dan negatif. Dampak positif dalam media televisi. Pertama, dimana media televisi memberikan informasi kepada seluruh masyarakat sehingga masyarakat dapat menyimak berbagai informasi yang ditampilkan oleh media televisi. Dengan mengetahui segala informasi yang ada akan dapat membantu seseorang dalam berbuat sesuatu, mengambil keputusan, dan memiliki kepercayaan dalam perilaku. Kedua, memberikan hiburan kepada masyarakat. Dimana fungsi hiburan menunjuk pada upaya-upaya komunikatif yang bertujuan memberikan hiburan pada khalayak luas. Dampak negatif dalam media televis. Pertama, dimana media televisi bisa menginspirasikan kejahatan. Erlangga (2008:15) mengatakan, “media massa yang memiliki efek paling kuat terhadap masyarakat dalam hal peniruan adalah televisi, karena tayangan rekonstruksi kriminalitas itu sebaiknya dihentikan karena sangat berbahaya. Televisi sebaiknya tidak mengangkat pemberitaan kriminalitas secara detail.” Menurut Nugroho (2008:15), hubungan erat kekerasan di tayangan televisi dengan yang terjadi di kehidupan nyata. Ia menegaskan hal itu berdasarkan hasil penelitian Leonard Eron dan Rowell Huesman terhadap berbagai program tayangan kekerasan di televisi Amerika Serikat pada akhir tahun 1990-an”.
Kedua, Salah satu dampak negatif televisi adalah perubahan perilaku, karakter, dan mental penontonnya. Hal ini dikarenakan acara televisi yang disajikan semuanya hampir sama. Salah satunya sinetron yang banyak menampilkan adegan kekerasan, gaya hidup hedonis, seks, ataupun mistik. Jika masyarakat banyak yang kurang setuju dengan pendapat ini, para owner atau pemilik media akan beralasan jika penayangan acara tersebut merupakan permintaan pasar yang dibuktikan dengan tingginya rating. Dengan sistem rating, program-program unggulan (ini juga tak berkait dengan kualitas, melainkan kuantitas nilai jumlah pemirsa) akan menjadi rebutan para pemasang iklan. Dengan begitu industri kapitalis hanya akan berfikir bagaimana memperoleh keuntungan tanpa memperdulikan dampak yang terjadi pada masyarakat. Ketiga, membuat masyarakat menonton TV hingga larut malam, membuat jam tidur malam berkurang, sehingga aktivitas diluar rumah semakin berkurang, juga mengakibatkan anak-anak cenderung malas mengikuti kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih mendidik.
Di manapun, program televisi yang dikelola oleh industri berwatak kapitalis yang hanya berpikir bagaimana mencari keuntungan semata, senantiasa menimbulkan persoalan. Maka, pada awal dekade 1990-an, para pengamat media kemudian melontarkan gagasan untuk melakukan sejenis aktivisme yang bergerak di tataran publik. Lahirlah gerakan media literacy, yaitu sebuah gerakan mendidik publik agar mampu menghadapi media massa secara bijak dan cerdas. Bijak, artinya mampu memanfaatkan media massa sesuai dengan keperluannya. Cerdas, artinya mampu memilih dan memilah ragam informasi yang memang diperlukan. Tahu mana yang penting, dan mana yang tidak penting atau bahkan berbahaya bagi dirinya maupun lingkungannya. Media literacy dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai keberaksaraan media atau melek media. Konsep ini merujuk pada kemampuan khalayak untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi pesan-pesan melalui media dalam berbagai konteks (Livingstone, 2003). Dalam suatu masyarakat media seperti kita sekarang ini, di mana kontak dengan media menjadi sesuatu yang esensial dan tak terhindarkan, media literacy merupakan sejenis ketrampilan yang diperlukan oleh khalayak guna berinteraksi selayaknya dengan media, dan menggunakan media dengan rasa percaya diri. Ketrampilan-ketrampilan ini sesungguhnya dianggap penting bagi siapa saja. Namun target utama media literacy adalah kaum muda dan anak-anak. Maklum, mereka tengah berada dalam proses peneguhan mental dan fisik.







C. KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan kajian sebagaimana di uraikan di atas penulisan menyimpulkan hal–hal yang berkaitan dengan penyelesaian permasalahan sebagai berikut
1. Dari sekian banyak tayangan yang disajikan televisi, kebanyakan dapat mempengaruhi sikap penontonnya setelah atau pada saat melihat tayangan televisi. Sehingga hal ini baik secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku penontonnya baik pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif.
2. Tayangan televisi yang menyajikan acara hiburan atau acara bernuansa kekerasan maka biasanya masyarakat, terutama pada anak-anak cenderung menyukai tayangan tersebut karena apa yang ditonton di tayangan televisi biasanya anak cenderung akan menirunya sehingga takut akan merusak akhlak masyarakat.












D. DAFTAR PUSTAKA
Mansur, awadl, Dr. (1993). Manfaat Dan Mudarat Televisi, Fikahati Anska, Jakarta.
Chen, Milton. (2005). Mendampingi Anak Menonton Telivisi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumargo, Faisal. 2008. “Pengaruh Media Massa (Televisi) Terhadap Masyarakat Kota Magelang Dalam Pilkada Jateng”. Dalam http://faisalsumargo.blogspot.com/2008/06/pengaruh-media-terhadap-masyarakat-kota.html. Diakses Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.30.
Elenyasak. 2008. “Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Anak”. Dalam http://ellenyasak.multiply.com/journal/item/2. Diakses Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.45.
Redaksi. 2008. “Media Bisa Menginspirasi Kejahatan”. Dalam Kompas, 10 November 2008. Jakarta.

Peran-Peran Public Relations

Nama : LisaFebrilia
Nim : 153080349
Kelas : G
Mata kuliah : Public Relations

MODEL-MODEL PUBLIC RELATIONS


inDalam menjalankan praktek public relations dalam organisasi, ada kecenderungan praktisi public relations untuk menjalankan fungsi-fungsi public relations tertentuyang mengarah pada terbentuknya model-model public relations. Dalam upaya mencermati model-model public relations, Gruning dan Hunt menggunakan pendekatan struktur horizontal dengan berdasarkan public, teknik Komunikasi, prose’s manajemen, wilayah geografis, system account executive, dan perkembangan praktek public relations di Amerika Serikat.
1. Press Agentry Model (Model Keagenan Pers)
Model ini menunjukan praktek public relations dimana program-program public relations yang dijalankan memiliki tujuan tunggal untuk mendapatkan publisitas melalui media massa yang menguntungkan organisasi. Eric Godlman (1948) menyebut era ini sebagai era dimana publik dibohongi (the public to be fooled)
2. Public Information Model (Model Informasi Publik)
Pada awal ke-20, model informasi publik mulai berkembang. Praktek public relations bertujuan untuk menyebarkan informasi kepada publik. Peran praktisi public relations lebih ditekankan pada hubungan media dengan mengeluarkan press releases yang menjelaskan tindakan dan kegiatan mereka sesering mungkin. Praktisi yang mempraktekkan model ini sering disebut journalist in residence.
3. Two-way Assymetrical Model (Model Asimetris Dua Arah)
Model ini juga disebut sebagai model persuasi ilmiah (scientific persuasion)yang menggunakan hasil-hasil penelitian tentang sikapmisalnya, untuk merancang pesan. Edward L. Bernays, seorang tokoh histories public relations, mempercayaibahwa manusia dapat dimanipulasi dengan menunjukkan bukti keberhasilan propaganda Hitler mengenai Nazi pada Perang Dunia II. Model ini lebih mementingkan pembelaan organisasi daripada mencari solusi yang terbaik bagi penyelesaian problem public relations yang muncul.
4. Two-way Symmetrical Model (Model Simetris Dua Arah)
Model ini menekankan pentingnya perubahan perilaku organisasi untuk merespon tuntutan publik. Praktisi public relations suatu organisasi selain berfungsi untuk membujuk publik, ia juga berusaha untuk mempersuasi pihak manajemen organisasi agar mau memperhatikan apa yang menjadi keinginan publik.
Adapun keempat model diatas mempunyai karakteristik, yaitu :
• Model Keagenan Pers
Tujuan : Propaganda
Sifat Komunikasi : Satu arah,kebenaran tidak esensial
Model Komunikasi : Source→ Rec
Sifat penelitian : sedikit; ‘counting house’
Tokoh utama : P. T. Barnum
Organisasi yang menggunakan : Sports, theatre, promosi produk
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%
• Model Informasi Publik
Tujuan : Penyebaran informasi
Sifat Komunikasi : Satu arah, kebenaran penting
Model Komunikasi : Source→Rec
Sifat penelitian : Sedikit; readability, readership
Tokoh utama : Ivy Lee
Organisasi yang menggunakan : Pemerintah, yayasan, bisnis
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 50%
• Model Asimetris Dua Arah
Tujuan : Persuasi ilmiah
Sifat Komunikasi : Dua arah; pengaruh tidak berimbang
Model Komunikasi : Source →Rec←Feedback
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi sikap
Tokoh utama : Edward L. Bernays
Organisasi yang menggunakan : Bisnis, kompetitif, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 20%
• Model Simetris Dua Arah
Tujuan : Pengertian bersama
Sifat Komunikasi : Dua arah, pengaruh berimbang
Model Komunikasi : Group→Group
Sifat penelitian : Formatif; evaluasi pengertian
Tokoh utama : Bernays, pendidik, pimpan professional
Organisasi yang menggunakan : Bisnis tertata, departemen
Estimasi organisasi yang mempraktekkan : 15%





















Praktisi public relations biasanya menjalankan peran berikut :
• Memberi advis pada pihak manajemen akan suatu kebijakan
• Berpartisipasi dalam keputusan kebijakan
• Merencanakan program public relations
• Menawarkan program pada pihak manajemen
• Mengajak kerja sama karyawan yang lain
• Mendengarkan pidato, berpidato, menulis pidato untuk orang lain
• Mencari pembicara untuk rapat-rapat organisasi
• Mengambil foto atau mengarahkan fotografer
• Memberi award
• Merencanakan dan melaksanakan rapat
• Mempersiapkan materi publisitas
• Berbicara dengan editor dan reporter
• Menyelenggarakan konfrensi pers
• Menulis artikel feature
• Meneliti opini publik
• Merencanakan dan mengelola event
• Mengadakan tur
• Menulis surat
• Merencanakan dan menulis booklet, leaflet, laporan dan bulletin
• Menempatkan pembicara untuk program radio dan televisi
• Mengevaluasi public relations, dll
Dari beragam aktivitas public relations yang dijabarkan oleh Wilcox dkk. Penglasifikasian peran praktisi public relations pertama kali dikonseptualisasikan oleh Glen M. Broom dan G. D. Smith pada tahun 1979, dan dikembangkan oleh para peneliti public relations dalam studi mereka yang berhubungan dengan peran public relations :
Public Relations Roles
1) Communication Technician Role (Peran Teknisi komunikasi)
Praktisi public relations memiliki keahlian dibidang Komunikasi dan jurnalistik – menulis, pengeditan, produksi audio visual, grafis dan produksi pesan – yang dibutuhkan untuk melaksanakan program public relations. Praktisi public relations yang menjalankan peran ini biasanya memegang peranan penting dalam organisasi yang mengutamakan informasi publik atau keagenan pers dimana pers membuat release kepada media mengenai organisasi
2) Communication Manager Role (Peran Manajer Komunikasi)
Praktisi public relations secara sistematis merencanakan dan mengatur program public relations sebuah organisasi, memberi masukan pada manajemen perusahaan, dan membuat kebijaksanaan komunikasi. Communication manager role terdiri atas tiga sub peran:
a) Expert prescriber. Manajer public relations kadangkala berfungsi sebagai ‘seorang ahli’ dan mendefinisikan masalah public relations, membuat program dan bertanggungjawab atas pelaksanaan program. Peran ini dalam literature praktisi public relations (Cutlip & Center 1971; Newsom & scott 1976) dikenal sebagai informed practioner.
b) Communication facilitator. Praktisi public relations berperan sebagai ‘perantara’ yang menjaga kualitas dan kuantitas alur Komunikasi dua arah antara organisasi dengan publiknya. Dia berfungsi sebagai liaison, interpreter, dan mediator yang berusaha menghilangkan hambatan komunikasi. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen dan publik untuk membuat keputusan yang saling menguntungkan. Praktisi yang menjalankan peran ini beraktivitas dengan asumsi bahwa komunikasi dua arah yang efektif akan meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh organisasi dengan publik yang berhubungan dengan kebijakan, prosedur, dan tindakan untuk kepentingan bersama.
c) Problem-solving process facilitator. Praktisi public relations membantu pihak manajemen organisasi untuk mencari solusi dari masalah komunikasi dan relasi organisasi. Peran problem-solving process fasilitator berbeda dengan peran expert prescriber. Pada peran expert prescriber, keterlibatan manajemen bersifat pasif, sedangkan peran problem-solving process facilitator bekerja sama dengan pihak manajemen secara hati-hati untuk menyelesaikan masalah secara bertahap.

Pengertian Komunikasi Massa

Pengertian Komunikasi massa tidak dapat didefinisikan dengan singkat dan sederhana, sebab di dalam pengertian Komunikasi massa tercakup hal-hal seperti pesan, teknologi, kelompok- kelompok, macam-macam konteks, bentuk-bentuk “audience” (khalayak), dan effect (pengaruh). Definisi yang diajukan oleh Bittner. Dia mengatakan bahwa “Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang”. Dan menurut Defleur dan Dennis, bahwa “ Komunikasi massa adalah suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan medeia untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda melalui berbegai cara.
Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.

Sabtu, 08 November 2008

sejarah perkembangan ilmu komunikasi

Pemaparan Sejarah Ilmu komunikasi


Secara umum,sejarah perkembangan ilmu komunikasi dapat dibagi empat periode. Pertama, periode ”tradisi retorika” yang dimulai sejak zaman Yunani Kuno. Kedua, periode antara tahun 1900 sampai Perang Dunia II yang dapat disebut sebagai periode pertumbuhan ilmu komunikasi. Ketiga, periode setelah Perang Dunia II sampai tahun 1960-an. Periode ini umumnya disebut sebagai periode konsolidasi. Dan, periode keempat adalah periode teknologi komunikasi yang dimulai dari tahun 1960-an sampai sekarang. Tiap periode masing-masing memberikan karakteristik tersendiri terhadap penekananidang studi dan konteks peristiwa komunikasi yang diamati. Berikut adalah uraian mengenai kondisi dan perkembangan komunikasi untuk setiap periode.

1.Periode tradisi retorika

Perkembangan lahirnya ilmu komunikasi dapat ditelusuri sejak peradaban Yunani Kuno beberapa ratus tahun sebelum Masehi.sebutan ”komunikasi” dalam konteks arti yang berlaku sekarang ini memang belum dikenal saat itu. Istilah yang berlaku pada zaman tersebut adalah ”retorika”.
Para ahli berpendapat bahwa studi retorika sebenarnya telah ada sebelum zaman Yunani ( Golden,1978; Foss, 1985; Forsdale, 1981 ). Disebutkan bahwa pada zaman kebudayan Mesir Kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemni dan Ptah-Hotep. Namun demikian tradisi retorika sebagai upaya pengkajian yang sistematis dan terorganisasi baru dilakukan di zaman Yunani Kuno dengan perintisnya Aristotle ( Golden, 1978 ). Pengertian ”retorika” menurut Aristotle, menunjuk kepada segala upaya yang bertujuan untuk persuasi. Lebih lanjut Aristotle menyatakan bahwa retorika mencakup tiga unsur yakni: ”ethos” ( kredibilitas sumber ), ”pathos” ( hal yang menyangkut emosi atau perasaan ), ”logos” ( hal yang menyangkut fakta ).
Dengan demikian upaya persuasi, menurut Aristotle, menuntut tiga faktor yakni kredibilitas dari pelaku komunikasi yang melakukan kegiatan persuasi, kemampuan untuk merangsang emosi atau perasaan dari pihak yang jadi sasaran, serta kemampuan untuk mengungkapkan fakta-fakta yang mendukung ( logika ). Pokok-pokok pikiran Aristotle ini kemudian dikembangkan lagi oleh Cicero dan Quintilian. Mereka menyusun aturan retorika yang meliputi lima unsur, yaitu: ”inventio” ( urutan argumentasi ), ”dispositio” ( pengertian ide ), ”eloqutio” ( gaya bahasa ), ”memoria” ( ingatan ), ”pronunciatio” ( cara penyampaian pesan ). Kelima unsur ini, menurut Quintilian dan Cicero merupakan faktor-faktor penentu keberhasilan upaya persuasi yang dilakukan seseorang. Tokoh-tokoh retorika lainnya yang dikenal pada zaman itu adalah Corak, Socrates, dan Plato.
Dalam abad pertengahan studi retorika ini secara institusional semakin mapan, khususnya di negara-negara Inggris, Prancis, Jerman. Dalam akhir abad ke 18 prinsip-prinsip retorika yang dikemukakan oleh Aristotle, Cicero dan Quintilian ini, kemudian menjadi dasar bagi didang kajian ”speech communication” ( komunikasi unjaran ) dan ”rhetoric”. Retorika tidak lagi diartikan secara sempit sebagai upaya persuasi. Pengertian retorika sekarang ini menunjukan pada ”kemampuan manusia menggunakan lambang-lambang untuk berkomunikasi satu sama lainnya”.

2.Periode pertumbuhan : 1900- Perang Dunia II

Pertumbuhan komunikasi sebagai salah satu disiplin ilmu sosial barangkali dapat dikatakan dimulai pada awal abad ke 19. Sedikitnya ada tiga perkembangan penting yang terjadi pada masa ini. Pertama, adalah penemuan-penemuan teknonologi komunikasi seperti telephone, telegraph, radio, TV, dll. Kedua, proses industrialisasi dan modernisasi yang terjadi di negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Ketiga, pecahnya Perang Dunia I dan II. Semua perubahan ini memberi bentuk dan arah kepada bidang kajian ilmu komunikasi yang terjadi di masa ini. Secara umum bidang-bidang studi komunikasi yang berkembang pada periode ini meliputi hubungan komunikasi dengan institusi dan masalah-masalah politis kenegaraan, peranan komunikasi dalam kehidupan sosial, analisis psikologi sosial komunikasi, komunikasi dan pendidikan, propaganda.
Pada masa itu, bidang kajian komunikasi dan kehidupan sosial mulai brkembang sejalan dengan proses modernisasi yang terjadi. Diasumsikan bahwa komunikasi mempunyai peran dan kontribusi yang nyata terhadap perubahan sosial. Penggunaan teknologi baru dalam pendidikan formal, keterampilan komunikasi, strategi komunikasi instruksional, serta ”reading and listening”. Sementara di bidang penelitian komunikasi komersial, dampak iklan terhadap khalayak serta aspek-aspek lainnya yang menyangkut industri media mulai berkembang sejalan dengan tumbuhnya industri priklanan dan penyiaran ( broadcasting ). Pikiran-pikiran baru tentang komunikasi yang terjadi pada masa ini, dipengaruhi oleh gagasan-gagasan para ahli ilmu sosial Eropa. Pokok-pokok pikiran dari Marx Weber, August Comte, Emile Durkheim, dan Sir Herbert Spencer dipandang punya pengaruh terhadap pengembangan teori-teori komunikasi yang terjadi pada periode ini. Tokoh-tokoh ilmuwan Eropa lainnya yang dianggap punya andil besar adalah Grabriel Tarde dan Georg Simmel.

3.Periode Konsolidasi : PD II- 1960-an

Periode setelan Perang Dunia II sampai tahun 1960-an disebut sebagai periode konsolidasi ( Delia, dalam Berger dan Chaffee, 1987 ). Pada masa ini konsolidasi pendekatan ilmu komunikasi sebagai suatu ilmu pengetahuan sosialyang bersifat multidisipliner ( mencakup berbagai ilmu ) mulai terjadi. Kristalisasi ilmu komunikasi ditandai oleh tiga hal. Pertama, adanya adopsi perbendaharaan istilah-isilah yang dipakai secara seragam. Kedua, munculnya buku-buku dasar yang membahas tentang pengertian dan proses komunikasi. Ketiga, adanya konsep-konsep baku tentang dasar-dasar proses komunikasi. Pendekatan komunikasi telah menjadi suatu pendekatan yang lintas disipliner dalam arti mencakup berbagai disiplin ilmu lainnya, karena didasari bahwa komunikasi merupakan suatu proses sosial yang kompleks.
Sedikitnya ada tujuh tokoh yang punya andil besar dalam periode ini. Mereka adalah Claude E. Shannon, Norbert Wiener, Harold D. Lasswell, Kurt Lewin, Carl I Hovland, Paul F. Lazarsfeld, dan Wilbur Schramm. Harold D. Lasswell ( ahli ilmu politik ), Paul F. Lazarsfeld ( ahli sosiologi ), Kurt Lewin dan Carl I. Hovland ( keduanya ahli psikologi sosial ), disebut oleh Wilbur Schramm sebagai “the founding fathers” ( para pendiri atau perintis ) ilmu komunikasi. Disebut demikian karena pokok-pokok pikiran mereka dipandang sebagai landasan bagi pengembangan teori-teori komunikasi. Wilbur Schramm sendiri dinilai sebagai ”institutionalizer” yakni yang merintis upaya pelembagaan pendidikan komunikasi sebagai bidang kajian akademis. Karena jasanyalah pengembangan bidang kajian komunikasi menjadi suatu disiplin ilmu sosial yang mapan dan melembaga menjadi terealisasi. ”Institute of Communication Research” yang didirikan Schramm di Illonis pada tahun 1947 merupakan lembaga pendidikan tinggi ilmu komunikasi yang pertama di Amerika Serikat. Sementara itu dua tokoh lainnya yakni Claude E. Shannon dan Norbert Wiener disebut sebagai ”insinyur-insinyur komunikasi”
Istilah ”Mass Communication” ( Komunikasi Massa ) dan ”Communication Research” ( Penelitian Komunikasi ) mulai banyak dipergunakan. Cakupan bidang studi komunikasi mulai diperjelas dan dibagi empat bidang tataran : komunikasi intrapribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan organisasi, dan komunikasi macro-sosial serta komunikasi massa. Lebih lanjut, sejalan dengan kegiatan pembangunan yang terjadi di seluruh negara, termasuk negara-negara berkembang, studi-studi khusus tentang peranan dan konstribusi komunikasi dalam proses perubahan sosial, difusi, inovasi, juga mulai banyak dilakukan.

4.Priode teknologi komunikasi : 1960-an sampai sekarang

Sejak tahun 1960-an perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mengarah pada spesialisasi. Menurut Rogers ( 1986 ) perkembangan studikomunikasi sebagai suatu disiplin telah memasuki periode ”take off” ( linggal landas ) sejak tahun 1950. Secara institusional kepesatan perkembangan ilmu komunikasi pada masa sekarang ini antara lain tercermin dalam beberapa indikator sebagai berikut : (1) jumlah universitas yang menyelenggarakan program pendidikan komunikasi semakin banyak dan tidak hanya terbatas di negara-negara maju seperti AS, tetapi juga negara-negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika, (2) asosiasi-asosiasi profesional di bidang iulmu komunikasi juga semakin banyak tidak saja dalam jumlahnya tetapi juga cakupan keanggotaannya yang regional dan internasional, (3) semakin banyaknya pusat-pusat penelitian dan pengembangan komunikasi. Dalam bidang keilmuan, kemajuan disiplin komunikasi ini juga tercermin dengan (1) semakin banyaknya literatur komunikasi seperti buku-buku, jurnal-jurnal, hasil-hasil penelitian ilmiah ataupun terapan, monografs, dan bentuk-bentuk penerbitan lainnya, (2) semakin beragamnya bidang-bidang studi spesialisasi komunikasi, (3) serta semakin banyaknya teori-teori dan model-model tentang komunikasi yang dihasilkan para ahli.Sebagai gambaran, hingga sampai saat ini terdapat 126 definisi, sekitar 50 teori dan 28 model tentang komunikasi ( Dance, 1982; Littlejohn,1989; McQuall dan Windahl, 1981; Forsdale,1981 ).
Periode masa sekarang juga disebut sebagai periode teknologi komunikasi dan informasi yang diandai oleh beberapa faktor sebagai berikut : (1) kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti komputer, VCR, TV Cable, parabola, video home computers, satelit komunikasi, teleprinter,videotext, laser vision, dan alat-alat komunikasi jarak jauh lainnya, (2) tumbuhnya industri media yang jangkauannya tidak hanya bersifat nasional tetapi juga regional dan global, (3) ketergantungan terhadap situasi ekonomi dan politik global/internasional khususnya dalam konteks ”centerperiphery” ( pusat dan sekelilingnya/pinggirannya ), (4) semakin gencarnya kegiatan pembangunan ekonomi di seluruh dunia, serta (5) semakin meluasnya proses demokratisasi ( liberalisasi ? ) ekonomi dan politik. Sebagai akibatnya, studi-studi komunikasi yang banyak dilakukan ( khususnya di negara maju seperti AS ) cenderung difokuskan pada proses dan dampak sosial penggunaan teknologi media komunikasi, arus penyebaran dan pemusatan informasi regional dan global ( misalnya ”transborder data flow ), aspek-aspek politik dan ekonomi informasi, kompetisi antar industri media, dampak sosial dari teknologi interaksi seperti komputer, komunikasi manusia mesin, dampak telekomunikasi terhadap hubungan anatar-budaya, serta aspek-aspek yang menyangkut manajemen informasi. Pendekatan disiplin ekonomi mulai diterapkan, karena disadari bahwa informasi di masa sekarang ini merupakan komoditi yang mempunyai nilai tambah.